Pengikut

Senin, 15 Agustus 2011

PERANAN ETIKA DALAM DUNIA MODERN


PERANAN ETIKA DALAM DUNIA MODERN
Etika sebagai pemikiran sistematis tentang moralitas tidak berpretensi untuk secara langsung dapat membuat manusia menjadi lebih baik. Dalam artinya sebagai ilmu, etika sebenarnya tidak perlu dimiliki oleh setiap orang,walaupun setiap orang membutuhkan moralitas. Yang dihasilkan secara lanngsung dari etika bukanlah kebaikan, melainkan suatu pemhaman yang lebih mendasar dan kritis tentang yang dianggap baik dan buruk secara moral. Untuk apa bagi kita pemahaman seperti itu? Jawaban atas pertanyaan ini dapat dikembangkan berdasarkan beberapa pemikiran berkaitan dengan tantangan zaman modern, di mana manusia dapat di gambarkan sebagai yang sedang mencari orientasi. Ada beberapa alasan penting mengapa etika pada Zaman kita semakin perlu
1.Adanya pluralisme moral
Adalah suatu kenyataan sekarang ini bahwa kita hidup dalam zaman yang semakin pluralistic, tidak terkecuali dalam hal moralitas. Setiaphari kita bertemu dengan orang-orang dari suku, daerah, alpisan sosialdan agama yang berbeda. Pertemuan ini semakin diperbanyak dandiperluas oleh kemajuan yang telah dicapai dalam dunia teknologi informasi, yang telah mengalami perkembangan sangat pesat. Dalam pertemuan langsung dan tak langsung dengan berbagai lapisan dankelompok masyarakat kita menyaksikan atau berhdapan dengan berbagai pandangan dan sikap yang, selain memiliki banyak kesamaan,memiliki juga banyak perbedaan bahkan pertentangan. Masing-masing pandangan mengklaim diri sebagai pandangan yang paling benar dansah. Kita m engalami sepertinya kesatuan tatanan normative sudah tidakada lagi. Berhadapan dengan situasi semacam ini, kita akhirnyabertanya, tapi yang kita tanyakan bukan hanya apa yang merupakan kewajibankita dan apa yang tidak, melainkan manakah norma-norma
untuk menentukan apa yang harus dianggap sebagai kewajiban. Dengan
demikian norma-norma sendiri dipersoalkan.
2.Timbulnya masalah-masalah etis baru
Ciri lain yang menandai zaman kita adalah timbulnya masalah-masalah etis baru, terutama yang di sebabkan perkembangan pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya ilmu-ilmu biomedis. Telahterjadi manipulasi genetis, yakni campur tangan manusia atas perkembang biakan gen-gen manusia. Ada reproduksi artifisal seperti fertilisasi in vitro, entah dengan donor atau tanpa donor, entah denganibuyang “menyewakan” rahimnya atau tidak. Bias terjadi juga adanya eksperimen dengan jaringan embrio untuk menyembuhkan penyakit tertentu, entah jaringan itu diperoleh melalui abortus yang disengaja atau abortus spontan. masalah kloning dan penciptaan manusia-manusiasuper serta tindakan manipulasi genetic lainnya sangatlah mengandung masalah-masalah etis yang serius dalam kehidupan manusia.Bagaimana sikap kita mengahadapi perkembangan seperti ini? Disinilah kajian dan pertanggung jawaban etika diperlukan.
3.Munculnya kepedulian etis yang semakin universal.
Ciri berikutnya yang menandai zaman kita adalah adanya suatu kepedulian etis yang semakin universal. Di berbagai tempat atau wilayah di dunia kita menyaksikan gerakan perjuangan moral untuk masalah-masalah bersaama umat manusia. Selain gerakan-gerakan perjuangan moral yang terorganisir seperti dalam bentuk kerjasama antar Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat, antar Dewan Perwakilan Rakyat dari beberapa negara atau Serikat-serikat Buruh, dan sebagainya, juga kita dapat menyaksikan adanya suatu kesadaran moral universal yang tidak terorganisir tapi terasa hidup dan berkembang di
aman-mana. Ungkapan-ungkapan kepedulian etis yang semakin berkembang ini tidaklah mungkin terjadi tanpa di latarbelakangi oleh kesadaran moral yang universal. Gejala paling mencolok tentang kepedulian etis adalah Deklarasi Universal tentang Hak-hak AzasiManusia, yang diproklamirkan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB)pada 10 Desember 1984. Proklamasi ini pernah diseebut sebagaikejadian etis paling penting dalam abad ke-20, dan merupakanpernyataan pertama yang diterima secara global karena diakui olehsemua anggota PBB. Selain dari apa yang sudah di deklarasikantersebut, ada banya kjuga kepedulian etis yang bersifat universal, diantaranya terutama masalah-masalah etis yang berkaitan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, masalah lingkungan hidup dan sebagainya. Dengan kepedulian etis yang universal ini, makapluralisme moral pada bagian pertama di atas dapat menjadi persoalan tersendiri. Universal berhadapan dengan pluralitas.
4.Hantaman gelombang modernisasi.
Kita sekarang ini hidup dalam masa transformasi masyarakat yangtanpa tanding. Perubahan yang terus terjadi itu muncul di bawah hantaman kekuatan yang mengenai semua segi kehidupan kita, yaitu gelombang modernisasi.
Yang dimaksud modernisasi di sini bukan hanya menyangkut barang atau peralatan yang di produksi semakin canggih, melainkan juga dalam hal cara berpikir yang telah berubah secara radikal. Ada banyak caraberpikir yang berkembang, seperti rasionalisme, individualisme,nasionalisme, sekularisme, materialisme, konsumerisme, pluralismereligius serta cara berpikir dan pendidikan modern yang telah banyak mengubah lingkungan budaya, sosial dan rohani masyarakat kita.
5. tawaran berbagi ideologi
Proses perubahan sosial budaya dan moral yang terus terjadi, tidakjarang telah membawa kebingungan bagi banyak orang atau kelompokorang. Banyak orang merasa kehilangan pegangan, dan tidak tahu harusberbuat atau memilih apa. Situasi seperti ini tidak jarang dimanfaatkanoleh berbagai pihak untuk menawarkan ideologi-ideologi mereka sebagai jawaban atas kebingungan tadi. Ada cukup banyak orang yang terombang ambing mengikuti tawaran yang masing-masing memilikidaya tariknya sendiri itu. Disini etika dapat membantu orang untuk sanggup menghadapi secara kritis dan objektif berbagai ideologi yang muncul. Pemikiran kritis dapat membantu untuk membuat penilaian yang rasional dan objektif, dan tidak mudah terpancing oleh berbagai alasan yang tidak mendasar.
Sikap kritis yang dimaksud di sini bukan suatu sikap yang begitu sajamenolak ide-ide baru atau juga begitu saja menerimanya, melainkan melakukan penilaian kritis untuk memahami sejauh mana ide-ide baruitu dapat diterima dan sejauh mana harus dengan tegas ditolak.
6. Tantangan bagi agamawan
Etika juga diperlukan oleh para agamawan untuk tidak menutup diriterhadap persoalan-persoalan praktis kehidupan umat manusia. Di satupihak agama menemukan dasar kemantapan mereka dalam iman kepercayaan mereka, namun sekaligus diharapkan juga mau berpartisipasi tanpa takut-takut dan menutup diri dalam semua dimensi kehidupan masyarakat yang sedang mengalami perubahan hampir disegala bidang. Walau etika tidak adapat menggantikan agama, namunetika tidaklah bertentangan dengan agama, dan bahwa agama memerlukan etika. Alasan yang bisa dikemukakan bagi pentingnya etika untuk agama adalah, pertama: masalah interpretasi terhadap
perintah atau hukum yang termuat dalam wahyu Tuhan, terutama seperti tertuang dalam kitab suci keagamaan. Banyak ahli agama,bahkan yang seagama sekalipun, sering berbeda pendapat tentang apayang sebenarnya mau diungkapkan dalam wahyu itu. Hal kedua adalah: mengenai masalah-masalah moral yang baruu, yang tidak langsungdibahas dalam wahyu itu sendiri. Bagaimana menanggapi dari segiagama masalah-masalah moral yang pada waktu wahyu diterima belum dipikirkan. Untuk mengambil sikap yang dapat dipertanggung jawabkan terhadap masalah-masalah yang timbul kemudian, diperlukan etika. Disini etika dapat dimengerti sebagai usaha manusia untuk memakai akalbudi dan daya pikirnya yang rasional untuk memecahkan masalah bagaimana ia harus hidup kalau ia mau menjadi baik. Usaha seperti initidak bertentangan dengan iman, karena akal budi juga merupakan anugerah besar dari Sang Pencipta kepada manusia.
Dari semua yang dikemukakan diatas, dapat dikatakan bahwa di masa pra-modern, tradisi menduduki tempat utama, menjadi satu-satunya acuan,tetapi tidak demikian halnya sekarang. Kini “tradisi” dipertanyakan,diragukan, danmungkin juga dibuang. Meski demikian, tradisi tidaklah hilang. Zaman sekarang dapat disebut post-traditional society, di manaorang masih membangun naratif-naratif, dan kehidupaan mereka tidak mengalami fragmentasi sebagaimana dibayangkan oleh orang-orang pengagum post-modernisme.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates